WCD X SPOT: White Cane Day x See The Person Not The Disability – Perayaan White Cane Day – Disability Awareness Day 2020

WCD X SPOT: White Cane Day x See The Person Not The Disability – Perayaan White Cane Day – Disability Awareness Day 2020

by Theresia Carlita Simanjuntak

Penyandang disabilitas memiliki hak asasi manusia yang sama dengan setiap individu di dunia. Namun, terdapat banyak kasus diskriminasi terhadap penyandang disabilitas di beberapa sektor. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa penyandang disabilitas sering dianggap sebelah mata sehingga hak-haknya sering kali diabaikan.

Dalam memperingati White Cane Day dan Disability Awareness Day kami mengadakan event dengan tema WCDXSPOT (White Cane Day X See The Person Not The Disability). Tujuan dari webinar ini adalah untuk mengenal lebih dekat penyandang disabilitas, bagaimana cara mendampingi mereka, dan  meningkatkan kepekaan dan kesadaran masyarakat terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Sehingga dapat tercipta lingkungan yang ramah terhadap hak-hak penyandang disabilitas.

WCDXSPOT merupakan webinar yang diselenggarkaan oleh SCORP-CIMSA USU melalui Zoom dengan target mahasiswa FK USU dan masyarakat umum. Webinar ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Oktober 2020. Webinar ini mengangkat topik kesetaraan hak asasi manusia yang dibawakan dengan talkshow dan workshop dengan penyandang disabilitas. Pada kesempatan ini, kami mengundang penyandang disabilitas tunanetra dari Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), yaitu Dra. Jenni Heyani selaku Kepala Divisi Edukasi Pertuni dan Rusman Dian Saputra selaku Dewan Pengawas Pertuni; dan teman tuli yaitu Elisabeth dari Kepemudaan dan Bisindo Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) sebagai pembicara. Webinar ini juga difasilitasi oleh Juru Bahasa Isyarat Indonesia.

Acara diawali oleh  talkshow dengan Pertuni mengenai hak-hak tunanetra, bagaimana cara mendampingi tunanetra di lingkungan masyarakat, dan dampak COVID-19 pada tunanetra. Lalu dilanjutkan dengan workshop bagaimana tunanetra menggunakan gawai untuk berkomunikasi. Walaupun dengan keterbatasan visual, teman tunanetra ternyata juga dapat menggunakan gawai seperti masyarakat pada umumnya dengan bantuan aplikasi yang mengubah tulisan menjadi suara. Setelah selesai workshop, tibalah sesi yang dinanti-nantikan yaitu sesi tanya jawab antar peserta dengan Pertuni

Setelah itu dilanjutkan dengan talkshow dengan Gerkatin mengenai perbedaan teman tuli dan tunarungu, budaya tuli, hak-hak teman tuli, cara membantu teman tuli di lingkungan masyarakat, dan dampak COVID-19 pada teman tuli. Lalu dilanjutkan dengan workshop BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Di sini peserta belajar cara berkomunikasi dengan teman tuli, yaitu dengan bahasa isyarat. Pada workshop ini, peserta diajarkan bahasa isyarat A-Z, protokol kesehatan menggunakan bahasa isyarat, dan bahasa isyarat “Selamat Hari Tongkat Putih Sedunia dan Hari Kesadaran Disabilitas”. Setelah itu, ada kuis bahasa isyarat. Selama kuis, peserta sangat antusias dan dapat mengerti bahasa isyarat yang diajarkan.

Walaupun dilakukan secara daring, peserta webinar tetap antusias dalam mengikuti webinar ini. Kami harap dengan adanya event ini masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang ramah terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Kami sangat terbuka terhadap saran dan kritik mengenai event ini.

Leave a Reply