White Cane Day 2021: See Through Their Perspective

White Cane Day 2021: See Through Their Perspective

White Cane dikenal sebagai simbol kemerdekaan, tanda otonomi, dan penghormatan terhadap martabat yang melekat pada tunanetra yang sejalan dengan Pasal 3 prinsip-prinsip yang terkandung dalam Konvensi PBB tentang Hak Penyandang Disabilitas (CRPD). White Cane juga sejalan dengan kewajiban yang diatur dalam Pasal 9 CRPD tentang aksesibilitas, Pasal 20 tentang mobilitas dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) serta mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal dan dari jarak normal meskipun dibantu dengan kaca mata (kurang penglihatan).

Dalam rangka memperingati White Cane Day yang jatuh pada tanggal 15 Oktober setiap tahun, SCORP CIMSA USU mengadakan serangkaian kegiatan air campaign dan tahun ini mengangkat tema “See Through their Perspective” mengenai isu vulnerable people dan keterbatasan lapangan kerja bagi teman tunanetra. Pada tahun ini, kami mengangkat topik tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat luas mengenai hak-hak tunanetra dan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik dan benar pada lingkungan masyarakat. Hal ini juga bertujuan untuk merayakan kemampuan dan keberhasilan yang dicapai oleh tunanetra yang dapat secara mandiri bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari, serta terlibat dalam komunitas dan masyarakat.

Kegiatan WCD dimulai dengan Air Campaign dengan merilis Podcast Spotify bersama dengan narasumber dari Alumni CIMSA USU, yaitu dr. Dwi Gunawan Fardhani, Local Officer on Human Right and Peace 2016/2017, yang membahas tentang kegiatan dan sejarah White Cane Day CIMSA USU, dilanjutkan dengan puncak acara yang dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober, yaitu webinar berbentuk advokasi yang dibawakan oleh Dinas Sosial Provinsi Kota Medan dengan mengangkat topik terkait akses lapangan pekerjaan bagi para tunanetra serta Talk Show dengan Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) yang terbuka oleh masyarakat luas, dan keesokan harinya diakhiri dengan wawancara video edukasi dengan Mitra Netra mengenai hak-hak tunanetra dan status quo di Indonesia yang diunggah pada Youtube CIMSA USU.

Rangkaian acara ini kami susun dengan harapan dapat membangun kesadaran publik mengenai hakikat ketunanetraan agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat tentang ketunanetraan dan berkomunikasi dengan baik, bersikap positif serta suportif terhadap para tunanetra, mencegah hal-hal diskriminatif, serta menambah wawasan dan membawa dampak positif kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Leave a Reply