THOR: The Health of Refugees – Perayaan World Refugees Day 2020

THOR: The Health of Refugees – Perayaan World Refugees Day 2020

Setiap individu diciptakan berbeda dan unik. Ketika seorang manusia dilahirkan, secara harfiah manusia itu memiliki hak dasar atau yang lebih dikenal dengan hak asasi manusia. Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada semua manusia, tanpa memandang ras, jenis kelamin, kebangsaan, suku, bahasa, agama, atau status lainnya. Hak asasi manusia meliputi hak untuk hidup dan kebebasan, kebebasan dari perbudakan dan banyak lagi. Setiap orang berhak atas hak- hak ini tanpa diskriminasi.

Pengungsi atau para pencari suaka merupakan kelompok yang rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia, mereka bahkan harus meninggalkan negara mereka dan mencari perlindungan dari negara lain. Menurut Konvensi 1951, status pengungsi didefinisikan sebagai “orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan,keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut”.

Indonesia merupakan salah satu negara transit bagi para pengungsi dan para pencari suaka di dunia. Menurut data dari United High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada bulan April tahun 2020, jumlah pengungsi kumulatif di Indonesia ada sebanyak 13,515 orang dari 45 negara berbeda, di mana negara penyumbang terbesar adalah negara Afganistan, dan disusul oleh Somalia. Penyebaran di Indonesia sendiri, paling banyak ada di kota Jakarta yaitu sebanyak 7628 orang, dan kemudian disusul oleh kota Medan dan Makassar.

 

 

Selama berada di Indonesia, para pengungsi dan pencari suaka tersebut dibawah tanggung jawab International Organization for Migration (IOM) dan UNHCR dan dalam proses menunggu untuk mendapatkan status pengungsi para pengungsi tersebut ditempatkan di community house  yang dibiayai oleh pemerintah melalui IOM.

Walaupun Indonesia merupakan negara transit, kewajiban Indonesia bukan hanya sekedar menampung saja, Indonesia juga harus menjamin kebutuhan-kebutuhan atau hak dasar para pencari suaka dan pengungsi terpenuhi selama berada di wilayah Indonesia. Pemerintah mewujudkan dan memenuhi hak untuk mendapatkan pendidikan para pengungsi dengan memperbolehkan mereka untuk mendapatkan pendidikan di sekolah negeri di kota di mana mereka ditempatkan.

Bagaimana dengan hak untuk mendapatkan kesehatan? Dalam hal ini, pemerintah juga mewujudkan serta memenuhi hak mereka dengan cara seperti; apabila mereka jatuh sakit maka mereka dapat menggunakan fasilitas kesehatan primer yang ada di sekitar mereka, kemudian akan dilakukan assessment oleh pihak IOM apakah diperlukan penanganan yang lebih lanjut; jika iya maka akan dirujuk ke pelayanan kesehatan sekunder. Dalam hal ini pemerintah Indonesia turut membantu, mengupayakan serta memenuhi hak- hak dasar mereka. Walaupun mereka bukanlah warga negara Indonesia, mereka juga merupakan manusia dimana hak- hak dasar yang dimiliki sejak dilahirkan ke dunia ini harus terpenuhi secara langsung maupun tidak langsung.

Tahun ini, walaupun di tengah pandemi yang sedang melanda, SCORP CIMSA USU tetap aktif melaksanakan kegiatan untuk memperingati World Refugees Day. Dengan mengangkat tema THOR (The Health of Refugees), kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari, yaitu pada tanggal 27-28 Juni 2020, THOR merupakan kegiatan pertama SCORP CIMSA USU mengenai refugees.

Pada tanggal 27 Juni 2020, SCORP CIMSA USU melaksanakan live Instagram dan berkolaborasi dengan dr. Agustinus Leonard Sembiring, beliau merupakan perwakilan dari Health Department International Organizations for Migration (IOM) cabang Medan. Tentunya live berjalan dengan sangat seru dan inovatif dengan mengangkat isu-isu mengenai refugees di saat pandemi seperti ini. Live diawali dengan pengisian pre test dan diakhiri dengan pengisian post test.

Hari kedua kegiatan THOR tentunya tidak kalah menariknya dengan hari pertama. SCORP CIMSA USU, merilis podcast dan berkolaborasi dengan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang merupakan komisariat tinggi  PBB untuk para pengungsi. Podcast bersama UNHCR dirilis di platform Spotify. Dalam pembahasan bersama UNHCR, kita dapat lebih mengerti mengenai apa itu pengungsi dan pencari suaka, jumlah kumulatif yang ada di Indonesia dan apa saja bantuan yang diberikan pemerintah kepada mereka disaaat mereka berada di Indonesia. SCORP CIMSA USU juga diberi kepercayaan sebagai partner pertama yang melakukan podcast bersama UNHCR.

Tentunya acara THOR ini tidak bisa berjalan baik apabila tidak ada campur tangan dari LO UNA CIMSA Indonesia, Officials CIMSA USU, Organizing Committee THOR, dan seluruh pihak eksternal yang terlibat. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Indonesia lebih mengenal keadaan dan hak-hak yang para pengungsi serta organisasi yang bergerak di bidang hak-hak pengungsi.

“ To be called a refugee is the opposite of an insult; it is a badge of strength, courage, and victory “

Leave a Reply